Singkat padat saja, Agensi Rumah Tangga adalah tontonan yang nyaman, menghibur, sekaligus menggelitik. Menyaksikannya setelah berjibaku bekerja seharian demi bertahan hidup, bagai menikmati bakso yang hangat, menenangkan dan kembali naikin mood.
Di balik komedi yang ditulis Ayu Anggraini dan Upi Avianto, adaptasi novel bertajuk sama karya Almira Bastari ini membawa sejumlah persoalan sosial yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Terutama, tentang sulitnya mencari kerja dan kerasnya perempuan berjuang di zaman ini untuk menghidupi diri sendiri maupun keluarganya.
Apiknya, berbagai persoalan itu tidak disajikan dengan pertunjukan dramatisasi nelangsa perempuan modern yang berurai air mata. Sutradara Naya Anindita justru membawanya terasa ringan lewat karakter, situasi, dan kelucuan yang dekat dengan keseharian.
Yang menarik, Agensi Rumah Tangga enggak berisik ketika menyentil persoalan sosial. Kritik terhadap kondisi dunia kerja hingga persoalan gengsi hadir lewat adegan dan dialog tanpa membuat film ini terasa seperti sedang memberikan ceramah.
Bahkan ketika menyinggung tugas dan peran lelaki untuk membantu menghidupi keluarga tetapi malah gengsi untuk bekerja, semuanya tetap dibungkus dengan humor.
Humor yang dibangun Ayu dan Upi pun cukup beragam, mulai dari kiasan yang mungkin akrab bagi generasi milenial hingga istilah yang lahir dari tren media sosial Gen Z. Sebagian besar sajian komedi itu terasa natural karena datang dari karakter dan situasi, meski sesekali ada istilah trending yang terasa dipaksakan dan mengganjal.
Salah satu yang berperan penting dalam menyampaikan punch-punch komedi dalam Agensi Rumah Tangga ini jelas adalah kehadiran para komika.
Umi Quary, Ardit Erwandha, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, hingga Kak Kev (Luqman), Mario Caesar dan Niky Putra dari New Pusat Dunia (NPD), serta Vino 'Gubernur Blok M', mendapat ruang untuk menghidupkan karakter masing-masing.
Mereka tidak sekadar membawa persona komedi dari panggung ke layar, tetapi benar-benar melebur dalam cerita. Dialog, gestur, hingga interaksi antarpemain menjadi sumber gelak tawa yang membuat suasana film tetap riuh.
Meski berhadapan dengan gerombolan komika, Enzy Storia tak kehilangan pesonanya. Ia tetap tampil apik sebagai Katia sang tokoh utama dengan segala gundah-gulananya.
Katia punya cukup banyak alasan untuk menjadi karakter yang penuh keluhan, tetapi Enzy membawanya dengan cara yang tetap ringan dan menyenangkan untuk diikuti. Ada sisi keras kepalanya, ada idealismenya, tetapi ada pula kerentanan seorang perempuan yang sedang berusaha mencari pijakan setelah kehilangan pekerjaan.
Chemistry Enzy dengan Afgan sebagai Kafka juga terasa mengalir. Keduanya punya interaksi yang tidak dibuat-buat, terutama ketika hubungan Katia dan Kafka mulai bergerak dari sekadar urusan pekerjaan menuju kedekatan personal.
Pertemuan keduanya menjadi salah satu bagian yang membuat cerita terasa lebih hangat tanpa harus buru-buru menjadikannya romansa.
Di luar urusan pemain, kekuatan Agensi Rumah Tangga juga terasa dari cara cerita, visual, dan musiknya yang saling melengkapi. Upi, Ayu, dan Naya Anindita cukup luwes menjaga perpindahan antara persoalan yang serius dan humor, sehingga film tidak terasa berat ketika mulai menyentuh isu pekerjaan dan keluarga.
Latar artistiknya pun mendukung dunia yang ingin dibangun. Penata artistik Jacobus Dimas membuat latar film terasa dekat dengan keseharian, sementara pilihan busana dan rias turut memperkuat karakter para pemain.
Bahkan baju-baju para ART yang gemas dan khas menjadi detail yang membuat dunia agensi ini terasa lebih hidup. Tone ringan yang dibangun Naya juga terasa konsisten lewat visual dan pilihan musik Hariopati Rinanto.
Mungkin satu-satunya hal yang terasa kurang kuat adalah pada keresahan ibunda Katia yang dibawakan Unique Priscilla. Setelah anaknya terkena PHK, kekhawatiran karakter orang tua ini sebenarnya cukup mudah dipahami.
Ada cara pandang generasi lama yang menganggap karier yang aman dan masa depan yang stabil masih lekat dengan pekerjaan tetap seperti PNS, sementara Katia justru memilih membangun agensi rumah tangga dari nol.
Sayangnya, alasan di balik kekhawatiran ibunda Katia itu belum terasa cukup dalam. Sang ibu memang menganggap pekerjaan sebagai agen ART tidak layak, tetapi film tidak banyak memperlihatkan apa yang membuat pekerjaan itu begitu dikhawatirkan.
Padahal, chemistry Katia dan ibunya justru terasa kuat. Benturan mereka sebagai ibu dan anak terasa natural, dengan Ibu yang merasa sedang mengarahkan anak menuju masa depan yang aman, sementara Katia ingin membuktikan bahwa pilihan hidupnya juga bisa membawa masa depan yang baik.
Atau mungkin juga karena bagi sebagian penonton, pilihan Katia menjadi bos para ART bukan sesuatu yang terasa aneh atau keliru, sehingga ekspektasi sang ibu terhadap karier Katia akhirnya terasa belum punya bobot yang cukup kuat sebagai sumber konflik.
Namun, kekurangan itu tidak lantas membuat Agensi Rumah Tangga kehilangan daya tariknya. Seperti sajian bakso di kala malam sepulang kerja, berbagai jenis bakso dengan segala kondimennya bercampur. Sederhana tapi memuaskan.
Yang jelas, Agensi Rumah Tangga mengingatkan bahwa kadang-kadang kita memang cuma butuh tontonan yang tidak terlalu rumit untuk membuat hari terasa sedikit lebih ringan.



