Jakarta, CNBC Indonesia - Matraman kini dikenal sebagai salah satu kawasan paling padat penduduk dan sibuk di jantung ibu kota. Namun, jauh sebelum bertransformasi menjadi lautan pemukiman dan pusat aktivitas warga seperti sekarang, wilayah ini menyimpan sejarah masa kolonial di mana tanahnya pernah dikuasai secara privat oleh seorang tuan tanah asing selama lebih dari empat dekade.
Sosok di balik kekuasaan pertanahan itu adalah J.M.L. Bohl, seorang warga negara Belanda yang datang ke Batavia demi mengadu nasib dan sukses meroket menjadi salah satu magnat tanah terbesar di era Hindia Belanda.
Berdasarkan arsip harian Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 19 Juni 1920, Bohl menginjakkan kakinya di Batavia sekitar tahun 1864 pada usia yang masih sangat muda, yakni 16 tahun. Seperti gelombang pendatang Eropa pada masa itu, ia memulai kariernya dari bawah dan diterima bekerja di perusahaan perdagangan terkemuka, Pitcairn Syaae & Co.
Berkat ketekunan dalam merintis karier, Bohl berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan yang kemudian dialihkannya ke sektor properti.
"Setelah bekerja, dia beralih membeli tanah dan ketika masih muda dia menjadi tuan tanah atas dua tanah, yaitu Matraman dan Sinajan yang terletak di dekat Paal Merah," tulis catatan surat kabar kolonial tersebut.
Merujuk pada direktori Adresboek van Nederlandsch-Indië voor den Handel (1896), kekuasaan Bohl di Matraman bukan main-main. Ia membentangkan kepemilikan seluas 502 bau atau setara dengan kisaran 400 hektare. Di atas lahan mahar tersebut, ia membangun sebuah kediaman mewah yang dilengkapi dengan fasilitas tak biasa untuk ukuran masanya: puluhan ekor rusa peliharaan yang berkeliaran sebagai simbol status dan kemewahan absolut seorang tuan tanah.
Berdasarkan Regeerings-almanak voor Nederlandsch-Indie, Bohl memegang kendali penuh atas tanah partikelir Matraman hingga 41 tahun lamanya, sebuah rentang kepemilikan yang tergolong sangat panjang di bawah sistem kolonial. Di masa keemasannya, kawasan Matraman disulap menjadi lahan produktif yang menghasilkan komoditas agrikultur penting kala itu, yakni padi dan kelapa.
Kendati bergelimang harta dan menguasai wilayah yang luas, kehidupan pribadi Bohl justru sangat tertutup. Harian Bataviaasch Nieuwsblad (19 Juni 1920) mencatat bahwa pria kelahiran 1848 tersebut hampir tidak pernah bergaul dengan publik luas dan memilih jal hidup yang menyendiri. Namanya lebih populer di kalangan elite kolonial semata-mata karena statusnya sebagai pemilik lahan raksasa.
Di luar bisnis pertanahannya, Bohl sempat mencicipi panggung politik lokal. Harian De Locomotief (21 Agustus 1908) pernah mewartakan pencalonannya sebagai anggota dewan perwakilan untuk wilayah Meester Cornelis (kini Jatinegara).
Kisah hidup sang tuan tanah kesepian itu akhirnya resmi menutup babak pada 18 Juni 1920. Di usia 72 tahun, Bohl mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Jalan Salemba usai menjalani operasi usus buntu yang disusul komplikasi gagal ginjal akut.
Kematian Bohl sekaligus menandai berakhirnya era penguasaan privat atas tanah partikelir Matraman selama 41 tahun, sebelum akhirnya aset-aset tersebut diambil alih oleh pemerintah kolonial. Kendati zaman telah berganti dan wujud wilayahnya telah berubah total menjadi kawasan metropolitan modern, sejarah mencatat bahwa tanah Matraman pernah berada di bawah genggaman seorang taipan kolonial yang hidup misterius di tengah kemewahan.



