Laga Persija Jakarta versus Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) menghadirkan rivalitas yang berbeda. Naik levelnya.
Biasanya, dulu, pertandingan Persija versus Persib di Jakarta, bukan di lokasi 'buangan', penuh drama. Pertikaian di atas lapangan. Sah, tentu saja. Namanya juga duel sarat gengsi.
Tekel keras, saling dorong, bertukar omongan kasar, yang berujung banyak kartu kuning hingga merah, seperti hal lumrah. Tak hanya di Indonesia, di belahan dunia lain pun banyak begitu.
Namun, laga Persija versus Persib pada sore yang cerah, Sabtu (12/9), punya nuansa berbeda. Tak banyak drama-drama hiperbola saat pertandingan berjalan. Duel kali ini sudah naik kelas.
Dua ideologi, dari Shin Tae Yong dan Igor Tolic, bentrok dengan ciamik. Macan Kemayoran, sebagai tuan rumah, mengunci lini-lini berbahaya Maung Bandung, utamanya Thom Haye.
Fabio Calonego dan Stjepan Loncar bermain solid. Ditambah mobilitas Rizky Ridho sebagai 'fake defender' membuat lini tengah Persija solid. Adam Alis jadi kehilangan magis.
Saat lawan mulai lelah, sedikit kehilangan fokus, Persija membuka keunggulan lewat kaki Alexander Jeremejeff, memanfaatkan assist Denis Kollinger yang tiba-tiba jadi winger.
Setelah turun minum, Persib belum menemukan formula anti-Persija, sampai Tolic mengganti Haye dan Mariano Peralta. Adam Alis digeser aktif di sayap kanan dan Luka Menalo menjadi kartu AS.
Ditariknya Ridho karena memberi isyarat ada gangguan, turut memberi efek. Sistem pertahanan Persija goyang. Persib pun menyamakan kedudukan lewat sepakan Balsa Sekulic.
Pertandingan yang tampaknya akan imbang 1-1, dipecahkan oleh gol Ivan Mamut pada injury time, menit ke-90+5. GBK bergemuruh; pecah, goyang, meletup; erupsi. Persija menang 2-1.
Dan, tidak ada drama klasik khas Derbi Indonesia: keributan antarpemain di tengah lapangan. Yang ada hanya adu teknik, fisik, psikologi, mentalitas, dan tentu juga strategi.
Hanya ada tiga kartu kuning dalam laga ini. Dua untuk Persija dan satu untuk Persib dari wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto. Ketiga kartu kuning tersebut murni professional foul.
Bisa dibilang ini drama sepak bola yang estetik. Suporter meneror lawan, baik yang main maupun cadangan, dan yang main memperlihatkan gairah sama tinggi. Ini laga klasik versi modern.
Baca analisis lanjutannya di halaman berikutnya >>>
Persib memang masih datang dan pulang dari stadion menggunakan kendaraan lapis baja. Belum ada pula Bobotoh di GBK. Hanya The Jakmania di tribune 'kuil merdeka' GBK.
Ini tentu saja tidak bisa dianggap lumrah. Ini aneh untuk sepak bola modern. Tidak bisa dianggap lazim, apalagi seharusnya. Namun, ada psikologis massa yang memang belum normal.
Belum bisa, bukan tidak bisa, Persib datang ke Jakarta dan sebaliknya Persija ke Bandung, dengan normal. Saatnya akan tiba, tetapi belum bisa saat ini. Saat itu akan tiba. Nanti. Entah kapan.
Hanya pula, jangan juga dikapitalisasi dan diromantisasi duel Persija versus Persib, juga Arema kontra Persebaya, sebagai jualan 'level baja'. Sepak bola tidak perlu dicitrakan begitu.
Pertandingan Persija versus Persib telah naik kelas. Seyogyanya juga instrumen lainnya promosi. Atmosfer pertandingan misalnya, sudah kembali lagi seperti sebelum ada Covid-19.
Sejak 2019, belum pernah ada laga kompetisi kasta tertinggi Indonesia dengan penonton lebih dari 50 ribu. Baru tercipta lagi pada 2026. Ini yang sangat pantas dikapitalisasi.
Suporter tamu sudah selayaknya mendapat tempat di tribune stadion kandang lawan. Pihak keamanan menjamin keamanan dan keselamatannya. Polisi, aparat, dan steward bersatu padu.
Perjalan kompetisi sepak bola Indonesia, utamanya Super League 2026/2027, baru di awal musim. Masih ada 300 lebih laga menanti ke depan. Ada banyak pula laga besar yang akan tersaji.
Jika laga Persija versus Persib pada pekan kedua liga adalah awalan, ini pembuka yang baik; positif; penuh energi. Seperti kata petuah bijak, "prestasi itu mudah menular", ini saatnya digelorakan.
Industri sepak bola nasional yang kembang kempis dalam lima musim terakhir, utamanya usai Tragedi Kanjuruhan yang menelan 135 korban jiwa, saatnya dibangkitkan kembali.
Psikologis massa tentu saja harus dijaga. Salah satu faktornya, fair play dan kepemimpinan wasit yang akurat. Kini sudah ada VAR, kesalahan keputusan wasit seharusnya kian minim.
Isu seperti, musim ini 'jatah' Persija atau Persebaya sudah 'digariskan' juara, perlu dibredel. Peniupnya perlu didalami dan dibikin jera agar tidak asal bicara. PSSI dan I.League berperang di medan ini.
Laga Persija versus Persib sudah naik kelas dan atmosfer sepak bola Indonesia mulai hidup lagi, tetapi jangan sampai mati dikebiri. Sudah lama sepak bola Indonesia tidak berada di level ini.
Laga Persija Jakarta versus Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) menghadirkan rivalitas yang berbeda. Naik levelnya.
Biasanya, dulu, pertandingan Persija versus Persib di Jakarta, bukan di lokasi 'buangan', penuh drama. Pertikaian di atas lapangan. Sah, tentu saja. Namanya juga duel sarat gengsi.
Tekel keras, saling dorong, bertukar omongan kasar, yang berujung banyak kartu kuning hingga merah, seperti hal lumrah. Tak hanya di Indonesia, di belahan dunia lain pun banyak begitu.
Namun, laga Persija versus Persib pada sore yang cerah, Sabtu (12/9), punya nuansa berbeda. Tak banyak drama-drama hiperbola saat pertandingan berjalan. Duel kali ini sudah naik kelas.
Dua ideologi, dari Shin Tae Yong dan Igor Tolic, bentrok dengan ciamik. Macan Kemayoran, sebagai tuan rumah, mengunci lini-lini berbahaya Maung Bandung, utamanya Thom Haye.
Fabio Calonego dan Stjepan Loncar bermain solid. Ditambah mobilitas Rizky Ridho sebagai 'fake defender' membuat lini tengah Persija solid. Adam Alis jadi kehilangan magis.
Saat lawan mulai lelah, sedikit kehilangan fokus, Persija membuka keunggulan lewat kaki Alexander Jeremejeff, memanfaatkan assist Denis Kollinger yang tiba-tiba jadi winger.
Setelah turun minum, Persib belum menemukan formula anti-Persija, sampai Tolic mengganti Haye dan Mariano Peralta. Adam Alis digeser aktif di sayap kanan dan Luka Menalo menjadi kartu AS.
Ditariknya Ridho karena memberi isyarat ada gangguan, turut memberi efek. Sistem pertahanan Persija goyang. Persib pun menyamakan kedudukan lewat sepakan Balsa Sekulic.
Pertandingan yang tampaknya akan imbang 1-1, dipecahkan oleh gol Ivan Mamut pada injury time, menit ke-90+5. GBK bergemuruh; pecah, goyang, meletup; erupsi. Persija menang 2-1.
Dan, tidak ada drama klasik khas Derbi Indonesia: keributan antarpemain di tengah lapangan. Yang ada hanya adu teknik, fisik, psikologi, mentalitas, dan tentu juga strategi.
Hanya ada tiga kartu kuning dalam laga ini. Dua untuk Persija dan satu untuk Persib dari wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto. Ketiga kartu kuning tersebut murni professional foul.
Bisa dibilang ini drama sepak bola yang estetik. Suporter meneror lawan, baik yang main maupun cadangan, dan yang main memperlihatkan gairah sama tinggi. Ini laga klasik versi modern.
Baca analisis lanjutannya di halaman berikutnya >>>
Hampir 60.000 Jakmania, suporter Persija, memadati Stadion Utama GBK. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Persib memang masih datang dan pulang dari stadion menggunakan kendaraan lapis baja. Belum ada pula Bobotoh di GBK. Hanya The Jakmania di tribune 'kuil merdeka' GBK.
Ini tentu saja tidak bisa dianggap lumrah. Ini aneh untuk sepak bola modern. Tidak bisa dianggap lazim, apalagi seharusnya. Namun, ada psikologis massa yang memang belum normal.
Belum bisa, bukan tidak bisa, Persib datang ke Jakarta dan sebaliknya Persija ke Bandung, dengan normal. Saatnya akan tiba, tetapi belum bisa saat ini. Saat itu akan tiba. Nanti. Entah kapan.
Hanya pula, jangan juga dikapitalisasi dan diromantisasi duel Persija versus Persib, juga Arema kontra Persebaya, sebagai jualan 'level baja'. Sepak bola tidak perlu dicitrakan begitu.
Pertandingan Persija versus Persib telah naik kelas. Seyogyanya juga instrumen lainnya promosi. Atmosfer pertandingan misalnya, sudah kembali lagi seperti sebelum ada Covid-19.
Sejak 2019, belum pernah ada laga kompetisi kasta tertinggi Indonesia dengan penonton lebih dari 50 ribu. Baru tercipta lagi pada 2026. Ini yang sangat pantas dikapitalisasi.
Suporter tamu sudah selayaknya mendapat tempat di tribune stadion kandang lawan. Pihak keamanan menjamin keamanan dan keselamatannya. Polisi, aparat, dan steward bersatu padu.
Perjalan kompetisi sepak bola Indonesia, utamanya Super League 2026/2027, baru di awal musim. Masih ada 300 lebih laga menanti ke depan. Ada banyak pula laga besar yang akan tersaji.
Jika laga Persija versus Persib pada pekan kedua liga adalah awalan, ini pembuka yang baik; positif; penuh energi. Seperti kata petuah bijak, "prestasi itu mudah menular", ini saatnya digelorakan.
Industri sepak bola nasional yang kembang kempis dalam lima musim terakhir, utamanya usai Tragedi Kanjuruhan yang menelan 135 korban jiwa, saatnya dibangkitkan kembali.
Psikologis massa tentu saja harus dijaga. Salah satu faktornya, fair play dan kepemimpinan wasit yang akurat. Kini sudah ada VAR, kesalahan keputusan wasit seharusnya kian minim.
Isu seperti, musim ini 'jatah' Persija atau Persebaya sudah 'digariskan' juara, perlu dibredel. Peniupnya perlu didalami dan dibikin jera agar tidak asal bicara. PSSI dan I.League berperang di medan ini.
Laga Persija versus Persib sudah naik kelas dan atmosfer sepak bola Indonesia mulai hidup lagi, tetapi jangan sampai mati dikebiri. Sudah lama sepak bola Indonesia tidak berada di level ini.



