Jakarta, CNBC Indonesia - Roda sejarah berputar tanpa bisa ditebak. Kemilau harta dan gaya hidup mewah keluarga orang terkaya di Nusantara pada masanya seketika runtuh menjadi abu. Pada 1946, Istana Darussalam, kediaman megah Sultan Mahmud dari Kesultanan Langkat, digeruduk gelombang massa dalam peristiwa kelam Revolusi Sosial Sumatra Timur.

Bangunan istana porak-poranda disapu amukan warga, sementara harta benda keluarga bangsawan ludes dijarah. Tragedi berdarah ini sekaligus menjadi penutup tirai atas kekuasaan salah satu kesultanan paling berlimpah harta di Indonesia.

Pundi-pundi kekayaan Kesultanan Langkat sejatinya bukan tanpa dasar. Kerajaan ini bertransformasi menjadi entitas super-kaya setelah "cairan hitam" minyak bumi ditemukan di Telaga Said, Pangkalan Brandan, pada era Sultan Musa (1840-1893) yang tak lain adalah kakek dari Sultan Mahmud.

Berdasarkan literatur Sejarah Pertumbuhan Pemerintahan Kesultanan Langkat, Deli, dan Serdang (1986), kejayaan finansial Langkat meroket tajam tatkala raksasa minyak asal Belanda, Royal Dutch Petroleum, menanamkan modal dan menjadikan Pangkalan Brandan sebagai salah satu pusat kilang serta kawasan pengolahan minyak terbesar di Pulau Sumatra.

Dari konsesi tambang emas hitam tersebut, kas kesultanan dialiri pemasukan fantastis. Tercatat, Sultan Langkat mengantongi royalti sekitar US$3.000 per tahun. Belum lagi dividen dari komoditas ekspor unggulan lainnya seperti perkebunan tembakau dan eksploitasi hasil hutan.

Derasnya aliran kas membuat keluarga istana hidup dalam limpahan kemewahan paripurna. Dalam riset berjudul Gaya Hidup Bangsawan Langkat (2023), pada masa kepemimpinan Sultan Aziz (1897-1927), kesultanan ini secara agresif membangun istana-istana megah bahkan memborong kapal tanker pribadi.

Gaya hidup para ningrat Langkat pun berkiblat total pada kaum kolonial Belanda. Mulai dari tren busana, tata krama kebudayaan, hingga selera kuliner harian yang serba barat.

Puncak hedonisme feodal ini terekam jelas pada era Sultan Mahmud (1927-1946). Sejarawan terkemuka Anthony Reid dalam bukunya, The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra (1979), menobatkan Sultan Mahmud sebagai penguasa paling kaya di antara seluruh kesultanan dan kerajaan di wilayah Sumatra Timur.

Catatan finansial tahun 1931 membuktikan kedigdayaan ekonomi sang sultan. Pendapatan pribadinya dari royalti minyak menembus angka fantastis 472.094 gulden-jauh meninggalkan pundi-pundi Sultan Deli dan Sultan Serdang yang nominalnya hanya sepertiga dari kekayaan Langkat.

Simbol-simbol kemewahan privat Sultan Mahmud pun berada di level berbeda: ia tercatat memiliki koleksi 13 unit mobil limosin mewah serta dua kapal pesiar pribadi untuk mobilitasnya.

Kendati demikian, kemewahan luar biasa yang dipamerkan para ningrat ini menciptakan jurang pemisah yang teramat lebar dengan realitas rakyat kebanyakan yang hidup dalam belenggu kemiskinan dan penderitaan.

Kesenjangan sosial akut ini menjelma menjadi bom waktu. Ketika angin revolusi pasca-kemerdekaan berhembus kencang, akumulasi kemarahan rakyat meledak menjadi sentimen anti-feodalisme yang membakar Sumatra Timur.

Revolusi Sosial 1946 datang menghancurkan segalanya. Harta karun dan kemegahan yang dulunya menjadi lambang kejayaan berubah menjadi barang jarahan. Tak berselang lama dari runtuhnya imperium tersebut, Sultan Mahmud tutup usia pada 1948, membawa serta lembaran terakhir kejayaan Kesultanan Langkat ke dalam pusaran sejarah masa lalu.